M Agus Sulaiman

Pamong Belajar di wilayah kerja Papua dan Papua Barat...

Selengkapnya

Program Parenting Dengan Pendekatan Tutor Kunjung

M. Agus Sulaiman, S.Pd

Abstrak

Peran orangtua dalam pengasuhan anak, idealnya dilakukan bersama karena keduanya memiliki peran yang berbeda. Ibu cenderung lebih terlibat dalam kebutuhan day care, sedangkan Ayah memiliki peran dalam pengasuhan yang lebih bersifat umum seperti disiplin, tata cara bersosialisasi, dan pendidikan akan norma, karena ayah dapat lebih bertindak objektif. Umumnya pada saat orangtua sibuk bekerja maka anak akan dititipkan ke lembaga PAUD. Sedangkan waktu anak di lembaga PAUD hanya sebentar dan membutuhkan waktu yang lebih dari orangtua. Maka dari itu lembaga PAUD menjemput bola untuk memprogramkan tutor kunjung ke rumah-rumah untuk memberikan parenting pada anak-anak.

Kata kunci: pengasuhan anak, orangtua dan tutor kunjung.

A. Pendahuluan

Setiap orangtua menginginkan buah hatinya senantiasa menjadi pelita kehidupan, anak yang baik, dan bermanfaat bagi orang lain. Sesuai dengan teori social learnig dari Bandura, bahwa anak mempelajari perilaku yang akan terpola dalam kepribadiannya melalui proses modeling pada orang-orang terdekatnya, terutama orangtua.

Fakta di lapangan begitu kompleks dan variatif problematika anak-anak yang dipengaruhi oleh berbagai adat dan budaya serta kebiasaan hidup dari suatu daerah tertentu. Misalnya kebiasaan berbicara dengan suara yang keras serta terkadang mengeluarkan kata-kata yang tidak patut. Hal ini disebabkan karena pengaruh lingkungan tempat tinggal yang nilai-nilai moral dan agama telah terkikis.

Sering ditemui pula anak-anak dengan pola hidup yang tidak sehat, misalnya kurang menjaga kebersihan diri,karena tinggal di daerah kumuh dan lingkungan yang tidak bersih. Selain itu, kebiasaan ingin menang sendiri dan kurang peduli terhadap orang lain/teman karena tinggal di lingkungan keluarga yang sibuk bekerja dan kurang peduli dengan lingkungan sekitar.

Masih banyak lagi pola asuh orangtua yang kurang baik terhadap anak. misalkan harapan orangtua agar anak dapat membaca, menulis dan berhitung. Kebiasaan hidup sehari-hari di lingkungan keluarga yang kurang baik. Misalnya komunikasi yang tidak sehat antara anak dengan orangtua, terjadinya pelecehan seksual, eksploitasi anak, dan masih banyak lagi.

Semua inilah merupakan masalah Anak Usia Dini (AUD) sehari-hari yang dapat kita jumpai dalam kehidupan keluarga dan berdampak ketika anak berada di lembaga PAUD.

Melihat kenyataan di atas, sudah seharusnya dilakukan berbagai terobosan untuk mengatasi permasalahan jika anak berada di lingkungan PAUD. Penanganan yang sering dilakukan lembaga PAUD yakni dengan mengundang orangtua untuk pertemuan baik dilaksanakan awal dan akhir pembagian laporan perkembangan anak. Namun hampir sebagian besar, orangtua tidak dapat memenuhi undangan tersebut. Ini merupakan masalah yang berat bagi lembaga PAUD untuk menginformasikan berbagai masalah anak yang ditemui selama di PAUD.

Alasan klasik yang sering diterima oleh lembaga PAUD dari orangtua, diantaranya kesibukan pekerjaan. Misalnya orang tua yang kerja dari pagi hingga malam baik yang bekerja di kantor maupun di ladang, nelayan dan sebagainya. Pengasuhan anak sering diserahkan kepada orang ke dua misalnya pembantu, kakek-nenek, dan seterusnya. Mereka inilah yang sering datang mengantar dan menjemput bahkan memenuhi undangan pertemuan dari lembaga PAUD.

Pembelajaran anak di lembaga PAUD hanya sebesar 20% ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pendidik. Namun tidak menjadi begitu berarti apabila saat anak berada di lingkungan keluarga tidak mendapatkan pendidikan yang tepat seperti dilaksanakan pada lembaga PAUD. Untuk itu penting bagi keluarga khususnya orangtua mengetahui dan mensinergikan pembelajaran bagi anak antara di rumah dan di lembaga PAUD. Sehingga pembelajaran menjadi berkesinambungan dan merupakan pembiasaan yang akan menjadi pengembangan perilaku dan kemampuan dasar anak. Penanganan PAUD di lembaga tidak dapat dipisahkan dari penanganan PAUD di rumah. Keduanya saling melengkapi dan harus selaras. Dengan demikian kami memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi antara lembaga rumah dengan lembaga PAUD terhadap pembelajaran anak. Pelaksanaan parenting atau pendidikan keorangtuaan dengan pendekatan tutor kunjung, orangtua tidak perlu lagi datang ke lembaga PAUD. Tutor kunjung yang telah dipersiapkan oleh lembaga PAUD dengan berbagai informasi sesuai masalah AUD yang ditemukan di lembaga PAUD atau pun di rumah, inilah yang menjadi media pendekatan parenting bagi orangtua di rumah.

B. Isi

A. Keluarga dan Parenting

Keluarga didefenisikan dalam berbagai pengertian. Pertama, keluarga adalah dasar kelompok sosial di masyarakat yang biasanya terdiri atas satu atau dua orangtua dan anak-anaknya. Kedua, keluarga juga dipahami sebagai dua atau lebih orang yang berbagai tujuan hidup dan nilai-nilai, memiliki komitmen jangka panjang, dan biasanya tinggal di satu tempat (Olson, dkk, 2011).

Peran orangtua dalam pengasuhan anak, idealnya dilakukan bersama karena keduanya memiliki peran yang berbeda. Ibu cenderung lebih terlibat dalam kebutuhan day care, mengenalkan anak pada kemampuan berbahasa dan kemandirian. Selain itu, ibu juga membantu anak memperkenalkan pada identitas diri anak. Ayah memiliki peran dalam pengasuhan yang lebih bersifat umum seperti disiplin, tata cara bersosialisasi, dan pendidikan akan norma, karena ayah dapat lebih bertindak objektif (Plomin dkk, dalam Triani dan Dewi, 2011). Possitive Parenting merupakan dasar-dasar dalam pengasuhan anak yang berkembang dalam psikologi positif.

Tujuan utama dari positive parenting adalah bagaimana membantu orangtua untuk menjadikan anak-anak mereka berdaya, nyaman, dan kuat dengan rasa sejahtera yang tinggi dan mampu meraih kepuasan hidup, sehingga dapat mencapai kebahagiaan tanpa mengenal usia.

Pengasuhan dalam positive parenting memiliki beberapa prinsip kunci, sebagai berikut :

a. Pemenuhan nutrisi anak, nutrisi dapat berpengaruh besar pada perkembangan, konsentrasi, dan kemampuan mental lainnya.

b. Kehidupan seimbang, dimana anak memiliki kesempatan bermain, belajar, mengeksplorasi lingkungannya dan memiliki waktu yang berkualitas bersama kedua orangtuanya, mengajarkan kehidupan yang seimbang dapat membantu anak memiliki regulasi diri yang baik dan membantu memelihara kedisiplinan dalam kehidupannya.

c. Mengembangkan rasa aman dan keamanan dalam keseharian, dilakukan untuk melindungi anak dari dampak lingkungan yang negatif, situasi yang belum waktunya dipahami, dan menciptakan lingkungan yang positif dan aman.

d. Memelihara komunikasi yang terbuka kepada anak, teman-temannya, pihak sekolahnya, dan lingkungan sekitar anak.

e. Menjadi orangtua yang aktif, sehingga anak-anak merasa didengarkan, memiliki ikatan kuat, dan memahami potensi keterbatasannya.

Kesemuanya haruslah diawali dari sikap dan karakter orangtua yang positif baik terhadap kehidupan, dunia, dan keluarga.

Nilai-nilai kehidupan pertama kali dikenal anak dari keluarga, terutama orangtua. Anak belajar kasih sayang melalui cara orangtua menunjukkan kasih sayang mereka kepada anak-anaknya. Anak belajar kebersihan dari kebiasaan bersih orangtua. Anak belajar menghargai orang lain, ketika dia dihargai orangtuanya. Anak belajar mencaci maki ketika ia dicaci maki oleh orangtuanya. Anak belajar kekerasan, ketika ia dipukul orangtuanya. Pendek kata, pola perilaku dan kebiasaan yang diterapkan dalam keluarga akan dijadikan acuan anak dalam bersikap dan berperilaku. Orangtua memiliki peran aktif sehingga anak mampu melewati tugas-tugas perkembangannya secara positif. Keluarga dibutuhkan manusia sebagai tempat berlindung, jalan dan pengarah untuk menuju keutamaan dalam hidup. Pendidikan anak bukan sebaai pemberian atau hadiah, melainkan hak anak yang harus ditunaikan oleh orangtua.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering terlihat anak-anak yang menampakkan perilaku yang kurang baik, sebagian mereka berkata-kata kasar, penuh kekerasan, mudah terbakar amarahnya, sehingga terjadi perselisihan. Ini bisa terjadi karena para orangtua salah dalam memilih visi hidup, orientasinya hanya duniawi belaka.

Orangtua harus berusaha memiliki sifat-sifat terpuji agar bisa dijadikan tauladan bagi anak-anaknya. Semakin baik sifat-sifat orangtua sebagai pendidik, semakin dekat tingkat keberhasilannya dalam mendidik anak.

Berikut ini adalah sifat-sfat yang harus disandang oleh orangtua:

a. Penyabar dan tidak pemarah

b. Lemah lembut dan menghindari kekerasan

c. Hatinya penuh rasa kasih sayang

d. Ada sepanjang waktu dalam memberi nasehat

e. Bersikap seimbang, tidak berlebih-lebihan (boros)

f. Fleksibel (tidak kaku)

Panduan dasar untuk orangtua antara lain:

a. Keteladanan

Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Meskipun kita sering memandang anak sebagai makhluk kecil, namun karena setiap waktu anak melihat perilaku dan perbuatan orangtuanya, maka kemampuan untuk meniru secara sadar atau tidak sangat besar.

b. Memilih waktu yang tepat untuk menasehati

Orangtua harus mampu memilih kapan saatnya yang tepat agar hati anak-anak dapat menerima dan terkesan dengan nasehatnya.

c. Bersikap adil dan tidak pilih kasih

Ketidakadilan dan sikap pilih kasih orangtua terhadap anak-anak akan menimbulkan rasa kecemburuan dan kedengkian dalam jiwa anak karena merasa dirinya disisihkan.

d. Memenuhi hak-hak anak

Anak yang dipenuhi hak-haknya akan memiliki sikap positif terhadap kehidupan. Ia akan belajar untuk bersikap saling memberi dan menerima, sekaligus melatih dirinya agar bisa tunduk pada kebenaran.

e. Mendoakan anak

Doa merupakan rukun utama yang harus diamalkan oleh orangtua. Doa akan semakin menghangatkan kasih sayang dan memantapkan cinta orangtua kepda anak-anaknya.

f. Membelikan mainan

Mainan yang bisa membangkitkan aktivitas fisik, meningkatkan daya kreatifitas anak.

g. Membantu anak agar berbakti dan taat

Orangtua harus bersikap kondusif dan kooperatif untuk memersiapkan anaknya menjadi anak-anak yang berbakti kepada orangtua dan taat kepada Tuhan.

h. Tidak banyak mencela dan mencaci

Bila orangtua suka mencela dan mencaci maki diri anaknya, sesungguhnya itu seperti mengaibkan dirinya sendiri, sebab yang melahirkan anak-anak adalah orangtua juga.

Berikut ini adalah sifat-sfat yang harus disandang oleh orangtua:

a. Penyabar dan tidak pemarah

b. Lemah lembut dan menghindari kekerasan

c. Hatinya penuh rasa kasih sayang

d. Ada sepanjang waktu dalam memberi nasehat

e. Bersikap seimbang, tidak berlebih-lebihan (boros)

f. Fleksibel (tidak kaku)

Panduan dasar untuk orangtua antara lain:

a. Keteladanan

Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Meskipun kita sering memandang anak sebagai makhluk kecil, namun karena setiap waktu anak melihat perilaku dan perbuatan orangtuanya, maka kemampuan untuk meniru secara sadar atau tidak sangat besar.

b. Memilih waktu yang tepat untuk menasehati

Orangtua harus mampu memilih kapan saatnya yang tepat agar hati anak-anak dapat menerima dan terkesan dengan nasehatnya.

c. Bersikap adil dan tidak pilih kasih

Ketidakadilan dan sikap pilih kasih orangtua terhadap anak-anak akan menimbulkan rasa kecemburuan dan kedengkian dalam jiwa anak karena merasa dirinya disisihkan.

d. Memenuhi hak-hak anak

Anak yang dipenuhi hak-haknya akan memiliki sikap positif terhadap kehidupan. Ia akan belajar untuk bersikap saling memberi dan menerima, sekaligus melatih dirinya agar bisa tunduk pada kebenaran.

e. Mendoakan anak

Doa merupakan rukun utama yang harus diamalkan oleh orangtua. Doa akan semakin menghangatkan kasih sayang dan memantapkan cinta orangtua kepda anak-anaknya.

f. Membelikan mainan

Mainan yang bisa membangkitkan aktivitas fisik, meningkatkan daya kreatifitas anak.

g. Membantu anak agar berbakti dan taat

Orangtua harus bersikap kondusif dan kooperatif untuk memersiapkan anaknya menjadi anak-anak yang berbakti kepada orangtua dan taat kepada Tuhan.

h. Tidak banyak mencela dan mencaci

Bila orangtua suka mencela dan mencaci maki diri anaknya, sesungguhnya itu seperti mengaibkan dirinya sendiri, sebab yang melahirkan anak-anak adalah orangtua juga.

B. Strategi pelaksanaan Parenting dengan pendekatan tutor kunjung

Tahap Perencanaan

1. Lembaga PAUD bersama lembaga rumah saling berkomunikasi tentang masalah Anak Usia Dini (AUD) yang ditemukan baik di rumah maupun di PAUD.

2. Lembaga PAUD menelaah dan mengkaji berbagai informasi yang diterima dari pendidik tentang berbagai masalah anak sering terjadi saat pembelajaran.

3. Lembaga PAUD menelaah dan mengkaji berbagai informasi yang diterima dari orangtua tentang berbagai masalah anak sering terjadi saat pengasuhan dan pembimbingan.

4. Lembaga PAUD menyusun program kerja kegiatan parenting

5. Lembaga PAUD mengidentifikasi dan menetapkan materi parenting dengan mengsinergikan program bersama stakeholder (kesehatan / keagamaan / psikologi)

6. Lembaga PAUD menetapkan keluarga (orangtua) dari anak yang memiliki masalah untuk dikunjungi di rumah.

7. Lembaga PAUD menyusun dan menetapkan biaya pelaksanaan kegiatan parenting.

8. Lembaga PAUD menetapkan calon tutor kunjung baik dari pendidik/pengelola PAUD itu sendiri maupun dari lembaga kesehatan/keagamaan yang memenuhi standar sebagai tutor kunjung.

9. Lembaga PAUD memfasilitasi kegiatan orientasi teknis bagi tutor kunjung sebelum berkunjung ke orangtua.

10. Lembaga PAUD menginformasikan kepada orangtua tentang kegiatan parenting.

C. Tahap Pelaksanaan

1. Orientasi teknis kegiatan parenting bagi tutor kunjung

a. Materi

Lembaga PAUD harus menyiapkan materi parenting bagi tutor kunjung hasil analisis masalah AUD, sehingga kegiatan parenting dapat efektif dan bermanfaat bagi anak, misalkan masalah kebersihan diri anak, artinya anak-anak ketika datang di PAUD dengan pakaian yang tidak bersih, sering jarang mandi berdampak pada telinga, tangan, kuku, dan hidung yang kotor dan berbau.

b. Metode dan teknik

Kegiatan parenting efektif terjadi di rumah, jika metode dan teknik yang digunakan oleh tutor kunjung menarik dan bersimpati, maka akan membuat orangtua bersimpati dan terbuka saat berdiskusi antara tutor dan orangtua.

Metode yang digunakan diantaranya metode diskusi dan curah pendapat, sementara teknik yang digunakan diantaranya pendekatan bahasa daerah atau bahasa setempat dalam menyampaikan materi. Pendekatan yang digunakan yaitu door to door (dari pintu ke pintu rumah), pendekatan menggunakan alat kontak (buah tangan), pendekatan acara keagamaan, pendekatan acara adat dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat, dan pendekatan kegiatan Pos Yandu atau kegiatan kesehatan masyarakat.

c. Media

Pelaksanaan kegiatan parenting yang dilakukan oleh tutor kunjung agar efektif dipahami orangtua perlu menggunakan media, diantaranya audio visual (layar tancap) terutama menggunakan pendekatan acara keagamaan atau acara kesehatan masyarakat atau acara adat dan budaya setempat, dan cerita bergambar.

2. Pelaksanaan kegiatan parenting ke orangtua

Ketika tutor kunjung telah memperoleh informasi dalam orientasi teknis yang difasilitasi oleh lembaga PAUD selanjutnya sesuai jadwal yang ditetapkan lembaga, maka tutor kunjung mendatangi orangtua di rumah atau telah disepakati di sesuatu tempat. Misalkan arisan keluarga, kegiatan pos yandu, dan lainnya. Tutor kunjung menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya kepada orangtua yang menjadi sasaran kegiatan parenting agar komunikasi yang terbuka dapat terbangun dengan kondusif sehingga orangtua dan tutor kunjung sendiri memiliki suasana yang aman dan nyaman dalam berdiskusi tentang masalah anak mereka yang sering terjadi baik di rumah maupun di PAUD. Jika suasana komunikasi sudah terbentuk saat itu pula alat kontak yang di bawa baik berupa gula, permen, rokok (orangtua merokok) maupun lainnya dapat diberikan bagi orangtua. Setelah tutor kunjung melaksanakan kegiatan parenting, harus menilai hasil kegiatan parenting kurang lebih 1 (satu) bulan kemudian sebagai tahap tindak lanjut, kegunaannya akan mengukur perubahan sikap dan perilaku anak, hal tersebut akan dievaluasi baik di rumah maupun di PAUD.

D. Tahap Tindak Lanjut

Penilaian Pelaksanaan Kegiatan Parenting

a. Tujuan Penilaian

Kegiatan penilaian bertujuan untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil pelaksanaan kegiatan parenting kebersihan diri anak oleh orangtua.

b. Prinsip Penilaian

1) Menyeluruh; penilaian mencakup aspek proses dan hasil pengembangan yang secara bertahap menggambarkan perubahan perilaku orangtua dalam pengasuhan dan pembinaan tentang kebersihan diri anak.

2) Berkesinambungan; penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran menyeluruh terhadap hasil pelaksanaan kegiatan parenting kebersihan diri anak oleh orangtua.

3) Objektif; penilaian dilakukan seobjektif mungkin dengan memperhatikan perbedaan dan keunikan perkembangan anak, dimana tidak selalu memberikan penafsiran yang sama terhadap gejala yang sama, sehingga setiap perlakuan kebersihan diri yang dilakukan oleh orangtua sering pembiasaan kepada anak.

4) Mendidik; hasil penilaian digunakan untuk membina dan memberikan dorongan kepada anak dalam meningkatkan kemampuannya sehingga anak dapat mengembangkan rasa berhasilnya, dimana orangtua sering memberikan pujian kepada anak ketika anak dapat menunjukkan perilaku yang benar mengenai kebersihan diri.

5) Kebermaknaan; hasil penilaian harus bermakna bagi orangtua dan pendidik/pengelola PAUD. Artinya pelaksanaan kegiatan parenting memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

E. Cara Penilaian

Kegiatan penilaian dilakukan oleh tutor kunjung dengan cara pengamatan. Pengamatan dimaksud untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari. Artinya proses parenting yang dilakukan tutor kunjung dengan orangtua berimplikasi terhadap anak, sehingga tutor kunjung dengan mudah dapat mengamati setiap perubahan sikap dan perilaku yang dilakukan anak setiap hari, bahkan kondisi tersebut dapat diamati di lembaga PAUD setiap anak yang orangtuanya merupakan sasaran pelaksanaan kegiatan parenting.

C. Penutup

Anak usia dini merupakan masa peka dalam rentang perkembangan individu. Pendidikan pada anak usia dini dipengaruhi oleh karakteristik anak tersebut dan juga peran orangtua sebagai significant others. Dimana secara garis besar orientasi pembelajaran anak usia dini adalah mengembangkan potensi dan kemampuan dasar, mengembangkan sikap dan minat belajar serta membangun dasar kepribadian yang positif. Pola pengasuhan yang dibutuhkan anak usia dini berbeda dengan usia lainnya.

Program parenting bagi anak usia dini dapat dilaksanakan dengan pendekatan tutor kunjung, yang pada gilirannya dapat mengefektifkan layanan PAUD di masyarakat, sehingga proses pembelajaran bagi anak usia dini dapat berjalan sesuai yang dikembangkan di rumah dengan lembaga PAUD.

Daftar Pustaka

Hyoscyamina, D.E dan Dewi, K.S. Pengembangan Program Parenting Bagi Anak Usia Dini Dengan Pendekatan Psikologi Positif dan Karakter Islami. Diunduh dari bundaendahpsiundip@yahoo.co.id pada 2017

Rice, David (1992) Mengendalikan Tingkah Laku Anak, Penterjemah: Chris J. Samuel. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

www.parenting.co.id/article/acara.parenting diakses pada tanggal 25 Januari 2018 pukul 09.47 WIT

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali